Belajar Coding di SMP Labschool Jakarta

Ditulis oleh: Amadeus Elia Hasiholan Panggabean – Kelas 8B / Absen 8



๐Ÿ“˜ I. Pendahuluan & Latar Belakang

Di era digital seperti sekarang, kemampuan teknologi bukan lagi bonus, melainkan keharusan. Sebagai siswa SMP Labschool Jakarta, saya menyadari sejak kelas 7 bahwa coding bukan hanya soal menekan tombol keyboard—melainkan tentang membentuk pola pikir, tanggung jawab dan kreativitas. Program coding yang digarap oleh sekolah memberi ruang bagi kami untuk tumbuh intelektual dan karakter. Di artikel ini, saya menceritakan dari pengalaman pribadi, refleksi, hingga rencana ke depan sebagai siswa aktif dalam bidang digital.

 

๐Ÿงฑ II. Program Coding di SMP Labschool Jakarta

A. Ekstrakurikuler Coding

Ekstrakurikuler coding adalah salah satu program wajib pilihan di Labschool. Tiap minggu, kami memilih jalur sesuai minat: scratch, python, web, dan robotik. Setiap cabang—Ciracas, Cirendeu, Rawamangun—menerapkan modul yang seragam, tapi dengan kreativitas lokal masing-masing guru pembimbing. Saya memilih jalur Python dan integrasi animasi karena logikanya menantang dan hasilnya nyata.

 

Setiap sesi dipandu oleh Pak Ramli yang mempercayai metode learning-by-doing. Salah satu pendekatan favorit beliau adalah minta kelompok menyusun proyek berdasarkan kebutuhan sekolah, misalnya aplikasi jadwal kelas otomatis, atau game edukasi untuk adik kelas. Kami tidak hanya merancang, tapi juga membuat dokumentasi mini berupa blog coding.

 

B. Workshop & Digital Labs

Digital Labs adalah event tahunan yang intensif: satu hingga dua hari penuh penuh coding dan workshop. Di kelas 8, saya ikut sesi Animasi dengan Python Turtle dan Pengenalan HTML + CSS Dasar. Tantangannya: membuat animasi edukatif bertema kemerdekaan Indonesia. Kami membuat grafis bendera MerahPutih berkibar, lalu menambahkan teks interaktif menggunakan kode. Saat itu, saya belajar tentang koordinat, loop, conditional, bahkan dasar tipe data.

 

Selain itu ada workshop tambahan seperti:

 

Game Jam internal Labschool (24 jam coding dalam tim kecil)

 

Pelatihan AI sederhana menggunakan tools open-source untuk siswa

 

Webinar coding bersama alumni yang kini kuliah informatika

 

๐Ÿง  III. Proyek Nyata & Dampak LearningbyProject

Berikut ini beberapa proyek yang saya dan teman-teman realisasikan:

 

1. Tebak Angka (Scratch)

Sebuah game sederhana untuk pemula yang mengajarkan alur logika dasar—variabel, IFELSE, loop. Tantangannya: membuat feedback yang memotivasi sekaligus edukatif.

 

2. Timer Belajar Python

Aplikasi pengatur waktu belajar; users input durasi, muncul alarm, plus pesan motivasi. Saya belajar modul time, input/output, serta flow kontrol sederhana.

 

3. Bot Matematika Discord

Dengan library discord.py, bot ini menjawab soal aritmetika dasar. Melalui proyek ini saya belajar API sederhana, struktur eventdriven programming, dan deployment host di Replit atau Glitch.

 

4. Situs Informasi Kegiatan Sekolah (HTML + CSS)

Situs statis ini memuat profil sekolah, kalender acara, dan hasil karya siswa Labschool. Teman sekelompok saya bertugas desain visual, sementara saya menulis konten dan menambahkan animasi hover CSS.

 

5. Aplikasi Redaksi Blog Coding

Saya dan dua teman membuat system internal untuk memasukkan artikel blog coding di Google Sites sekolah. Dengan template sederhana, teman sekelas bisa submit tulisan, lalu guru TIK bisa review langsung.

 


๐Ÿค IV. Support dan Kolaborasi

A. Guru Pembimbing Coding

Pak Ramli selalu menekankan growth mindset:

 

“Gagal itu biasa, tetapi jika tidak dievaluasi, kita tidak bergerak.”

Beliau mengajarkan cara debug sendiri—mencari error, membaca dokumentasi, dan meminta saran dari teman.

 

B. Guru Blogger & Digital Writing (Omjay)

Pak Wijaya “Omjay” Kusumah mendorong siswa untuk menulis refleksi harian tentang proyek coding. Setiap minggu, ia memberi topik blog inspiratif, dan memberi apresiasi berupa badge digital. Hal ini memunculkan budaya dokumentasi digital yang konsisten.


 


 

C. Kepala Sekolah & Program Karakter

Ibu Dr. Yati Suwartini mengintegrasikan nilai karakter Pancasila dan nasionalisme ke dalam kegiatan coding:



 

proyek bertema “Ayo Cinta Tanah Air” – seperti membuat animasi sejarah Indonesia atau blog tentang kegiatan baksos.

Hal ini memperkuat dimensi karakter di samping coding skill.

 

D Pak Ramli, selaku guru TIK dan pembimbing utama ekskul coding di SMP Labschool Jakarta, memberikan wawasan menarik tentang proses belajar siswa:



“Banyak siswa datang ke kelas coding dengan rasa takut. Tapi saya selalu bilang ke mereka: coding itu seperti belajar bahasa baru—bukan soal jenius atau tidak, tapi soal kebiasaan dan keberanian mencoba.”

“Banyak siswa datang ke kelas coding dengan rasa takut. Tapi saya selalu bilang ke mereka: coding itu seperti belajar bahasa baru—bukan soal jenius atau tidak, tapi soal kebiasaan dan keberanian mencoba.”

 

๐Ÿ‘ฅ V. Suara Siswa dan Teman Sekelas

Berikut komentar dari beberapa teman:

 

Kevin (8B):



“Coding awalnya bikin takut karena ribet. Sekarang nyaman karena diajar step-by-step!”

 

Amadeo (8B):



“Aku paling suka desain web. Panduan guru dan contoh template membantu banget.”

 

Mirah (8B):



“Blog coding bikin aku lebih percaya diri tampil di depan: dari menulis ke presentasi.”

 

Komentar mereka menunjukkan betapa coding membuka potensi setiap siswa berbeda. Bahkan yang awalnya nggak kontak komputer sama sekali, sekarang sudah bisa bikin game sederhana atau blog dokumentasi.

 

๐Ÿ“ฆ VI. Kendala & Tantangan

Tentu saja, ada tantangan di tengah proses belajar:

 

Keterbatasan waktu:

Jadwal belajar coding hanya sekali seminggu. Saat ujian atau kegiatan ekstra, kami harus pintar membagi waktu pribadi.

 

Akses perangkat:

Tidak semua siswa punya laptop sendiri. Kami berbagi peralatan di lab komputer atau bawa laptop kelas saat dibutuhkan.

 

Varian kemampuan:

Ada siswa yang cepat menangkap logika, ada yang perlu lebih banyak waktu. Ini membuat guru harus membuat materi paralel—pemula dan tingkat lanjut.

 

Gangguan teknis:

Seperti koneksi internet putus saat deploy bot atau error library ketika coding. Namun ini menjadi pelajaran teknis yang menyenangkan—belajar troubleshoot itu bagian dari coding.

 

Belajar dari tantangan ini, saya menyarankan:

 

Membuat klub coding ad-hoc di luar sekolah (sesi ekstra setiap hari Sabtu misalnya),

 

Membuka ruang mentoring teman sebaya—siswa tingkat atas membimbing yang masih pemula.

 

๐Ÿ”ญ VII. Rencana & Target Masa Depanku

Sebagai penutup besar untuk diri saya pribadi, saya merumuskan beberapa target jangka menengah dan panjang:

 

Jangka pendek (6 bulan ke depan):

 

Mahir Web Development (HTML+CSS+JS).

 

Mengisi blog coding minimal 10 post tutorial.

 

Jangka menengah (1–2 tahun):

 

Ikut lomba coding pelajar, seperti Lomba Karya Ilmiah TIK, atau Hackathon pelajar.

 

Mengembangkan aplikasi web internal sekolah seperti sistem absensi atau dokumentasi kegiatan.

 

Jangka panjang (setelah SMP):

 

Belajar framework seperti React atau Flutter.

 

Membuat aplikasi mobile sederhana untuk edukasi.

 

Membentuk komunitas belajar coding + blogging di sekolah—“CodeBlog Labschool”.

 

Saya juga memiliki keinginan untuk menjadi mentor bagi adik kelas atau siswa baru, terutama mereka yang pemula agar tidak takut mencoba. Saya ingin membuat “Kit Pemula Coding” yang berisi tutorial sederhana, tips, dan contoh kode.

 

๐Ÿงพ VIII. Refleksi Pribadi

Selama lebih dari dua tahun belajar coding & blogging di Labschool, saya telah merasakan perubahan signifikan dalam cara saya berpikir dan berkomunikasi:

 

Saya belajar menstrukturkan ide, baik dalam kode maupun dalam tulisan blog.

 

Saya lebih percaya diri berbicara di depan teman dan orang tua saat expo.

 

Saya memiliki portofolio digital—berisi kode & tulisan yang bisa saya tunjukkan untuk masa depan.

 

Saya belajar untuk konsisten: membuat dua atau tiga proyek coding kecil sekaligus menulis blog refleksi mingguan.

 

Sebelumnya saya menganggap coding itu sulit dan mahal—tapi kini saya tahu bahwa coding bisa dimulai dengan Scratch gratis, blog gratis di Google Sites atau Kompasiana, dan semangat belajar yang terbuka.

 

V. Suara Siswa dan Teman Sekelas (diperluas)

Selain komentar teman yang sudah disebutkan, saya juga sempat berdiskusi dengan beberapa teman dari kelas 7 dan kelas 9. Ternyata, setiap angkatan punya pengalaman yang berbeda saat memulai coding.

 

Atha 8B):



“Waktu pertama ikut Digital Labs, aku bingung banget. Tapi gurunya sabar, dan temanku ngajarin juga. Sekarang aku suka mainin Scratch dan pengin bikin game petualangan sendiri.”

 

Aira 8B:



“Dulu aku ragu ambil coding karena takut susah. Tapi pas bikin proyek bareng, ternyata seru! Aku bahkan jadi belajar desain juga.”

 

Beberapa siswa juga membentuk kelompok belajar informal sepulang sekolah. Kami biasanya berkumpul di perpustakaan digital atau lab komputer. Di sana kami saling berbagi error dan solusi. Kadang-kadang kami juga menonton video tutorial YouTube bersama, lalu mencoba meniru projeknya. Dari sinilah muncul ide proyek tambahan seperti:

 

Mini Game Matematika untuk SD

Game ini dibuat pakai Scratch dan berisi soal matematika dasar dengan efek suara dan animasi. Kami membuatnya sebagai media bantu untuk adik-adik kelas 1–3 SD.

 

Kamus Interaktif Bahasa Daerah

Proyek ini dibuat dengan HTML, CSS, dan sedikit JavaScript. Ketika pengguna mengklik kata dalam Bahasa Sunda atau Batak, muncul artinya dalam Bahasa Indonesia. Proyek ini kami presentasikan saat Hari Bahasa Ibu.

 

Simulasi Voting Siswa (Python)

Sebuah sistem voting sederhana yang bisa menampilkan hasil suara kelas untuk menentukan pilihan ekskul favorit atau kegiatan outing class. Selain belajar logika, kami juga belajar etika data.

 

Hal yang paling mengesankan adalah ketika siswa yang dulunya minder dan takut coding, kini bisa menjelaskan proyek mereka dengan bangga ke orang tua saat Expo Ekskul. Saya sendiri dulu sering ragu saat harus presentasi. Tapi setelah terbiasa menulis blog dan menjelaskan proyek coding saya, kini saya bisa berbicara lebih lancar, percaya diri, dan bahkan bisa jadi tutor mini untuk teman yang tertinggal.

 

 


๐Ÿ IX. Penutup & Harapan

Belajar coding di SMP Labschool Jakarta bukan hanya soal menciptakan script atau game. Ini tentang membangun pola pikir logis, kreatif, serta mendokumentasikan perjalanan lewat blog. Dengan dukungan guru seperti Pak Ramli (coding mentor), Omjay (blog inspirator), dan kepemimpinan Ibu Dr. Yati (pendidikan karakter), kami belajar menjadi pencipta solusi digital yang bertanggung jawab.

 


Saya berharap semakin banyak sekolah di Indonesia yang menyediakan ruang belajar coding sejak SMP, karena kemampuan logika dan kreativitas akan menjadi modal dasar di masa depan, tidak hanya untuk bekerja di IT, tapi di semua bidang profesional.

 

“Setiap baris kode yang saya tulis hari ini bisa menjadi awal dari solusi besar di masa depan. Blog saya adalah hasil nyata dari proses itu.”

— Amadeus Elia Hasiholan Panggabean, 8B / Absen 8




๐Ÿ”— Referensi & Platform Belajar

 


Comments

Popular posts from this blog

100 SOAL INFORMATIKA

Bab 1 Buku Informatika kelas 8